Showing posts with label Public Service. Show all posts
Showing posts with label Public Service. Show all posts

Wednesday, April 6, 2011

MATRE in Modern Life

Cerita tentang cewek matre memang tidak ada habis-habisnya untuk diangkat dijagat pergosipan internasional, mulai dari wanita penggoda pengganggu rumah tangga hingga cewek matre pinggir jalan.
dari muda sampai tua matre itu tidak ada matinya..


g ada cewek yang g doyan duit, itulah kodrat seorang wanita so istilah
ada uang abang sayang, g ada uang abang ditendang 
IS TRUE

this is for example..
Its common conversation also an anekdot for this kind of condition

  • ocha dan icha sedang jalan berdua,
  • ocha: cha, kok kamu lebih milh ucha dibanding aq
  • icha: semua orang ad kekurangan dan kelebihannya
  • ocha: ucha c kurang semua, tampangnya ancur kayak semangka kelindes truk
  • icha: biar bgtu, kekurangannya dtutupi dgn kelebihanny didalem cha
  • ocha: maksud km kepribadian dy
  • icha: bukan, tapi kelebihan didalem dompetnya..
  • Ocha: §#*?%®

So how do you tell that...
kisah ocha dan icha hanya sepenggal cerita cewek matre yang lebih memilih kantong dibandingkan hati. alasan yang sering dipakai oleh mereka (para cewek matre) "cinta g bisa bikin kenyang" or "Makan Tuh Cinta"

artikel ini tidak menyudutkan dan menjudge wnita semua itu matre mungkin tidak semua tapi kebanyakan seperti itu dan bilapun ada yang tulus itupun sudah langka dan wajib dimasukan dalam suaka untuk dilestarikan.
sebuah lirik lagu lama menyebutkan
Cewek Matre Kelaut Aje
Selengkapnya....

Friday, March 26, 2010

SNI


Belakangan ini banyak ditayangkan iklan layanan masyarakat yang menghimbau penggunaan helm berstandar SNI.
Usul yang bagus menurut saya..

Hanya saja kalau boleh saya kritisi, SNI yang mana yang dipakai..
Sebagai informasi, helm yang dipakai dalam proyek konstruksi juga berstandas SNI, namun yang dipakai itu SNI untuk proyek terutama bidang K3. Jadi apa tolak ukurnya dunx..
Selain itu pada iklan tersebut hanya disebutkan helm berstandar itu memiliki logo SNI. Kalau hanya logo, anak kecil juga bisa membuatnya. Lebih jauh lagi bagaimana karakteristik (bukan bentuk) helm SNI tersebut. Karena saya yang bekerja dibidang konstruksi sudah terbiasa dengan standar SNI dan saya yakin bidang lainpun demikian meski nomor SNI yang dipakai berbeda.
Dan lagi siapa yang menentukan dan mengawasi bahwa helm tersebut sudah memenuhi syarat spesifikasi dari SNI..
Hanya masukan saja kalau buat peraturan itu disosialisasikan dengan jelas dan transparan sehingga tidak muncul anggapan peraturan dibuat untuk kantong polisi saja. Terlebih peraturan ini, apa mungkin ada kerjasama antara pembuat peraturan dengan produsen helm.
Ada cerita kawan yang ditilang karena helm yang dipakai tidak berlogo SNI padahal helm tersebut sudah sertifikat DOT yang dipakai internasional..
Apa ini yang disebut membabi buta..
Sepertinya betul adanya seperti itu.. Selengkapnya....

Tuesday, June 9, 2009

Kereta AC ekonomi



Bagi para RoKer (Rombongan Kereta) mungkin sudah mengetahui rahasia umum bahwa kereta ekonomi yang biasanya mengangkut penumpang dengan tarif yang cukup murah cuma Rp.1.500,00 akan segera dilenyapkan dari peredaran dan digantikan dengan kereta Ekonomi AC yang katanya memiliki fasilitas yang lebih baik dari kereta ekonomi biasa....

Tapi bagi penulis yang kebetulan juga Anker (Anak Kereta) mengetahui kereta ekonomi akan dihapus sangatlah memberatkan, meski demikian tidak menolak terang-terangan.

Mengenai kereta ekonomi AC yang telah lama diluncurkan, penulis menilai pelayanan yang diberikan tidaklah jauh berbeda dengan ekonomi biasa...
Selain lampu yang merata diseluruh gerbong dan pintu yang bisa ditutup rapat, sandangan AC tidaklah tepat diberikan kepadanya buktinya setelah beberapa kali naik kereta Ekonomi AC setiap jam berangkat dan pulang kantor masih juga keringat bercucuran dan penuhnya sama saja dengan ekonomi biasa...

didalampun AC tidak selalu hidup dengan alasan mengurangi pemakaian listrik. Sehingga nama ekonomi AC sebaiknya diganti ekonomi exclusif karena tarifnya yang mahal... Selengkapnya....

Thursday, May 21, 2009

Latar belakang Kecelakaan Hercules...



Satu kecelakaan militer dari sekian banyak yang terjadi diekspose besar-besaran oleh media.
Pesawat Hercules TNI AU jatuh di Magetan-Jawa Timur dan menelan korban jiwa 101 orang meninggal dunia (99 Merupakan penumpang pesawat, sedangkan 2 lainnya adalah penduduk yang terkena badan pesawat ketika pesawat terjatuh) dan 14 orang masih menjalani perawatan di RSUD Dr Soedono Madiun dan 1 orang di RS Lanud Iswahyudi.

Mengapa hal ini bisa terjadi,...?

Minimnya anggaran militer disinyalir menjadi salah satu latar belakang kecelakaan ini. dengan dana minim ini otomatis maintenance pesawat pun menjadi seadanya dan tidak layak terlebih lagi kondisi pesawat yang sudah lawas dan hampir tidak layak untuk terbang.

Dalam RAPBN tahun 2009 untuk militer dianggarkan sebesar 33 Triliun rupiah turun Rp. 3,3 Triliun dari RAPBN 2008 yang berjumlah kurang lebih Rp. 36,5 Triliun sedangkan kebutuhan minimal Militer hampir seberar 101 Triliun rupiah...

Bagi orang biasa mungkin anggaran ini terlihat besar tapi coba bandingkan dengan luas negara Indonesia yang memiliki luas 1.919.440 km2 atau 1.919.440.000.000 m2.
sehingga untuk 1 m2 hanya dianggarkan sebesar Rp. 17, 20 pertahun...
Bayangkan....
Coba bandingkan dengan parkiran motor di mall-mall yang memberi tarif sebesar Rp.1.000,00 perjam parkir..
Bandingkan dengan Singapura yang memiliki luas hanya 580 KM2 atau Rp. 580.000.000,00 m2. Mereka menganggarkan kurang lebih Rp. 50 Triliun (APBN 2008) sehingga 1 m2 di jatahi anggaran keamanan sebesar Rp. 86.206,90 pertahun...

Jauh sekali bukan....!!!

Sungguh ironis negara yang memiliki luas cukup besar ini hanya menganggarkan kurang dari Rp. 100 perak untuk mengamankan daerahnya dari intervensi luar...

Katanya dana keamanan digunakan untuk mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi. Padahal keamanan adalah aset dasar untuk meningkatkan ekonomi. mana ada yang mau mengeluarkan uangnya untuk investasi jika kemananan tidak terjamin...

Keamanan menjadi modal awal dalam membangun ekonomi negara.....

Oleh karena itu Klo ingin perekonomian bangkit, berilah iklim investasi yang kondusif dengan meningkatkan keamanan dan kenyamanan.
Klo aman siapa yang tidak mau datang... Selengkapnya....

Wednesday, May 20, 2009

Kemacetan di Jakarta

Pagi Hari
Masuk kerja lagi
menerjang lautan kendaraan di kota jakarta yang semakin crowded, full smoke around.

Sungguh suatu rutinitas yang melelahkan, dari 24 jam dalam sehari 5 jam habis di perjalanan karena kemacetan yang semakin membabi buta....
Pemborosan Energi Sekali............

Energi Fosil dihabiskan hanya untuk mempercepat Global Warming, Energi manusia dihabiskan sia-sia dalam perjalanan yang menguras tenaga...

Sekali Lagi PEMBOROSAN.....

Sekarang kembali ke Jakarta...

Menurut pandangan pribadi gw sendiri apa yang menyebabkan pemborosan ini.
Asal muasal dari terjadinya pemborosan energi dan tenaga adalah simpang siurnya sistem transportasi terutama Makhluk yang namanya ANGKOT. Mereka berhenti menunggu penumpang dimana saja dan kapan saja mereka suka..



Angkot atau angkutan perkotaan pada awalnya diperuntukan bagi rakyat kecil yang ingin bepergian di jakarta. Tapi pada perkembangannya karena simpang siurnya sistem dan kurangnya tingkat kesadaran dari pengemudi angkot sendiri yang sering berhenti dengan seenak kakinya sehingga membuat kemacetan bagi kendaraan dibelakangnya..

Coba kita hitung sedikit...

Dalam jalan yang berjarak 100 m sebuah angkot berhenti diujungnya selama 5 menit karena sedang menunggu penumpang.
dalam 100 meter tersebut terdapat kurang lebih 20 kendaraan yang terpaksa berhenti karena kelakuan angkot tersebut.
20 kendaraan berhenti selama 5 menit dan masing-masing menghabiskan 0.01 liter per menit sehingga dalam 5 menit tersebut sudah menghabiskan 1 liter karena angkot yang berhenti.

Sekarang bayangkan berapa panjang dan berapa lama rata-rata kemacetan yang terjadi di jakarta setiap harinya..


SUATU PEMBOROSAN...

Terus solusinya bagaimana.....?

Sebenarnya pemerintah sudah memikirkan bagaimana solusinya..
Busway, water way, mono rel.
Semua itu sebagian solusi yang ditawarkan pemerintah daerah jakarta tetapi pada kenyataannya semua itu Gagal.
Mengapa gagal...?
Hal itu karena pemerintah mengambil sampel kondisi dengan study banding yang tidak benar-benar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di jakarta. Mereka study banding ke negara yang banyak wisatanya doank (EROPA).

Sebaiknya pemerintah memikirkan kembali langkah yang lebih baik untuk mengatasi persoalan tersebut. dan cermat dalam melakukan study banding.. jangan hanya mengambil rekreasinya doank..Kerjanya juga diperhatikan donk.

Lw kerja yang bener biar gw bisa kerja dengan lebih enak lagi..
Lw bener gw Bener.. Selengkapnya....

Tuesday, June 24, 2008

PERLINDUNGAN KONSUMEN

PENERBANGAN TERTUNDA, MINTALAH KOMPENSASI

Keputusan Menetri Perhubungan (KM) no.81/2004 mengenai
Penyelenggaraan Angkutan Udara di revisi.

Maskapai penerbangan harus mengantisipasi keluarnya
peraturan dengan meningkatkan pelayanan "Mereka tak bisa seenaknya lagi membatalkan penerbangan begitu saja" ujar Bambang S.Ervan Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan.

Konsumen bisa langsung mengajukan kompensasi saat ada penundaan jadwal penerbangan.

Ada 3 kategori penundaan (delayed) :

Penundaan antara 30-90 menit, konsumen berhak mendapat
makanan ringan (snack) dan minuman.
Penundaan antara 90-180 menit, konsumen berhak mendapat snack, makan besar, dan pengalihan penerbangan berikutnya.
Keterlambatan diatas 180 menit, maskapi wajib memberi
akomodasi berupa fasilitas menginap di hotel.

Garuda Indonesia dan Air Asia mengaku siap membayar
kompensasi setiap kali telat terbang.

Garuda Indonesia mengandeng PT Asuransi Jasa Indonesia
(Persero) untuk
memperluas jaminan asuransi penumpang dan cargo, salah
satunya adalah delayed.

Indonesia AirAsia, maskapai asal Malaysia memberlakukan kebijakan 'ON TIME GUARANTEE', jika terlambat diatas 3 jam dari
jadwal akan mendapat kompensasi berupa E-Gift Voucher AirAsia sebesar Rp 500.000,- (sayangnya tidak dijelaskan kegunaan voucher ini).

Kontan, 18 Juni 2008
Selengkapnya....